Minggu, 04 Mei 2008

Bahagialkan teman mu

Ada yang bilang, tak bisa hidup tanpa teman. Sebagai manusia sosial manusia mengetahui hal tersebut. Pentingnya seorang teman patutlah kiranya kita memberikan sesuatu yang membuat teman kita bahagia. Kira-kira apa saja yang bisa membuat teman kita bahagia. Nah, ini dia.
Pertama, saling berbagi. Berbagi kebahagian, kesedihan (disamping berbagi uang tentunya hehehhe) Adakalanya seorang teman butuh perhatian kita. Tapi, yang perlu di ingat, jangan hanya berbagi kebahagian, tapi bagi juga kesedihan kamu dengan temanmu
Kedua, Saling mengerti. Kamu harus mengerti bagaimana sifat dan karakter masing-masing teman kamu. Contoh, jika teman kamu sensitif, jangan membuat mereka marah dan lain-lain.
Ketiga, Sering memberi kejutan. Saat ulang tahun, atau teman kamu lagi berbahagia, cobalah memberi sedikit kejutan. Tidak harus kado yang mahal. Dengan sedikit ucapan selamat bisa membuat temanmu senang bukan kepalang.
Keempat, Simpati. Cobalah merasakan apa yang dirasakan teman kamu. Biasanya simpati lebih digunakan saat temanmu lagi sedih. Cobalah untuk merasakan apa yang dia rasakan. Sapa tahu kalau temanmu ada masalah, kamu bisa menyelesaikannya.
Kelima, sering komunikasi. Mustahil kan dengan teman sendiri tidak komunikasi. Kalau kamu udah jarang ketemu teman, jangan khawatir, masih ada hp internet.
Keenam, saling mengoreksi. Nah ini penting banget. Teman yang baik itu bukanlah teman yang selalu memuji kita. Tapi teman yang mengoreksi. Tapi kamu juga ingat, kalau memberi komentar dengan temanmu cukup berdua saja. Satu lagi, kamu juga harus siap menerima kritikan dari teman kamu.
Pokoknya, kalau kamu pengen membahagikan teman kamu harus melakuakan hal-hal yang bermanfaat dengan temanmu. Jangan terlalu egois. Jadilah orang yang terpenting bagi temanmu. Tunjukan bahwa kamu memang teman sejati. Kamu pasti tahu caranya kan. Tunggu apa lagi.

Sang Abu

Mereka terdiam bukan bisu
Mereka acuh bukan tak tahu
Mereka tahu hari ini
Abu itu telah berlalu
Dan mereka
Masih merindukanmu
Sang abu

5W 1H

Sendiri di kota ini
Siapa yang kau cari
Mereka telah pergi
Apalagi yang kau nanti
Mereka tak pernah kembali
Bahkan mereka tak peduli
Bagaimana kau bisa lari
Dengan sejuta luka dikaki
Sampai kapan kau kan seperti ini
Samapai mati???
Dimana peri yang baik hati
Kau pikir ini parodi
Berhentilah bermimpi
mengapa masih berdiri
Ayo kesini
Akan ku ajari
Bagaimana cara melepaskan diri
Dari semua ini

-Padang, 4 Mei 2008-

Sabtu, 03 Mei 2008

Budayaku, Bukan Budaya Kamu


Kebudayaan merupakan hasil kegiatan dan penciptaan bathin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat. Setiap daerah, setiap negeri bahkan setiap Negara atau bangsa mempunyai kebudayaan yang berbeda, seperti pepatah Minang, “Lain lubuak lain ikannyo”.

Itu berarti setiap daerah mempunyai kepercayaan, kesenian dan adat-istiadat masing masing yang patut mereka banggakan. Begitu juga kebudayaan Minang, banyak sekali hal yang dapat kita pelajari dari sebuah kepercayaan, kesenian dan adat istiadat Minangkabau yang juga patut kita banggakan.

Sebagai orang Minang kita wajib mengetahui apa saja yang menjadi kepercayaan, kesenian dan adat istiadat daerah kita. Ini juga perlu dilakukan untuk memperkenalkan budaya kita kepada daerah lain, bahkan bangsa asing sekalipun.

Minangkabau memang bukan daerah yang asing lagi. Begitu banyak kebudayaan daerah kita yang terkenal ke daerah lain. Sebut saja Tari Piring, Randai, Tari Lilin dan beberapa kebudayaan lainnya yang menarik minat masyarakat lain dan juga orang asing.

Seiring dengan perkembangan zaman, budaya Minang juga semakin memudar. Kesadaran berbudaya masyarakat juga semakin kurang. Mungkin jika kita tanya terhadap generasi muda atau remaja sekarang ini, tak banyak yang tahu dengan budaya Minang. Lantas, siapakah yang dipermasalahkan atas semua ini? Apakah kita sebagai generasi muda yang tak lagi menghargai hasil ciptaan dan pikiran nenek moyang kita?

Pernah suatu ketika dalam suatu acara yang mengangkat tema tentang pewarisan nilai-nilai budaya Minang kepada generasi muda. Dalam acara yang berbentuk diskusi tersebut dibahas tentang budaya Minang yang semakin memudar. Suatu hal yang saya tangkap pada diskusi tersebut adalah terjadinya tuding-tudingan diantara generasi muda dan para orang tua tentang pewarisan nilai-nilai kebudayaan tersebut.

Di suatu sisi para orang tua meminta generasi muda untuk menerima warisan dari mereka. Tapi, di sisi lain generasi muda juga menuntut orang tua yang kurang mewarisi apa yang seharusnya mereka terima. Akhirnya diskusi yang seharusnya menyelesaikan sebuah masalah tersebut malah menjadi ajang tuding-tudingan. Begitukah seharusnya yang kita lakukan?

Dari permasalahan-permasalahan tersebut berarti ada suatu hal yang patut kita pertanyakan tentang pewarisan budaya Minang kepada generasi muda. Apakah pewarisan budaya yang dikehendaki oleh orang-orang sebelumnya telah tercapai atau belum ataukah memang pewarisan tersebut yang tidak ada. Apakah sebetulnya yang salah. Ini patut kita renungankan bersama-sama.

Belum lagi problema yang terjadi belakangan ini. Adanya kabar tentang hasil kebudayaan Minang yang dirampas oleh Negara lain. Bahkan yang lebih para lagi Negara tersebut sudah mempatenkan budaya kita tersebut menjadi budaya mereka. Tidak hanya satu, tapi beberapa budaya kita yang dicaploknya.

Suatu hal yang menyedihkan memang. Orang Minang yang terdahulu sudah begitu susah payah untuk menghasilkan sebuah karya cipta. Malahan orang asing dengan begitu mudah mengakuinya sebagai budaya mereka. Apakah budaya yang kita ciptakan hanya untuk orang asing. Apakah sebetulnya memang kita yang memiliki, atau….?

Jika kita mengangap bahwa kebudayaan daerah kita sebagai suatu hal yang kuno atau ketinggalan zaman. Namun kenapa bangsa asing masih tertarik untuk mengembangkan kebudayaan kita, bahkan mempatenkan budaya kita. Perkembangan zaman dijadikan alasan untuk tidak melestarikan budaya kita.

Mungkin satu alasan lagi kenapa budaya kita sampai mampir ke negeri tetangga adalah persamaan rumpun kita dengan orang-orang di negeri tetangga. Ada pendapat yang mengatakan bahwa terdapat kesamaan antara orang Minang dan orang di Negara tetangga. Apakah pendapat tersebut memang benar adanya atau hanya semata sebuah alasan.

Ada juga cara lain kenapa kebudayaan kita juga sampai terkenal di negeri tetangga dan dicintai oleh orang asing. Orang Minang dikenal dengan orang yang gemar merantau. Dalam perantauan tersebut, mereka juga masih tetap cinta dengan kebudayaan daerah sendiri, sehingga mereka masih mengembangkan kebuadayaan Minang itu di tempat perantauan tersebut. Alhasil, terkenalah kebudayan kita ke berbagai pelosok daerah, termasuk Negara tetangga tentunya. Bahkan, kebudayaan kita tersebut dikembangan oleh mereka sampai kepada cucu-cucu mereka.

Kesalahan yang kita lakukan adalah tidak mencintai kita dengan sesungguhnya. Kenapa kita sampai kecolongan dengan kasus tersebut. Jika memang kita mencintai kebudayaan kita harusnya dari dulu kita sudah melakukan berbagai upaya untuk melindungi kebudayaan kita. Budaya kita sudah diambil oleh orang asing, baru kita angkat bicara tentang peramapasan yang terjadi.

Kita juga tidak bisa menyalahkan bangsa asing tentang kasus perampasan kebudayaan ini. Bagi mereka kebudayaan merupakan suatu hal yang penting sehingga mereka begitu melestarikan sebuah kebudayaan. Sehingga tak heran juga kalau mereka mempatenkan kebuadayaan yang belum terpatenkan sebelumya sebagai kebudayaan mereka. Satu lagi yang jadi pertanyaan kita adalah jika orang asing saja bisa mempatenkan budaya kita, kenapa kita tidak?


Masa Lalu

Langit tak lagi kelabu
Hari telah berlalu
Tapi aku
Masih saja terpaku
Di antara satu waktu
Masa lalu

Tak ada yang Bisa

Aku ingin bergabung bersama musim
Aku ingintertawa bersama kalian
aku ingin
Bahkan sangat ingin
Tapi baru saja kulangkahkan kaki ini
Batin ini meronta
Bibir ini berkata
Aku tak pantas bersama kalian
Lebih baik kukubur rinduku
Bersama udara pagi ini
Tak ada yang bisa mengobati lukaku

-Padang, 30 April 2008-

Kau Kan Temui

Walaupun tak ada rumah yang kau singgahi
walaupun di sana tak ada orang yang kau temui
tapi aku percaya
Di sini kau kan temui aku
Di sini kau kan temui
Bayanganmu

-padang 29 April 2008-